0
DENPASAR,  - Ekspor gerabah dari Banyumelek Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yakni gentong berukuran besar yang dibuat artistik dari tanah liat lewat Bali mulai berkurang, karena turis mulai mencari gentong itu langsung ke Lombok.

"Lombok semakin banyak dikunjungi turis dalam dan luar negeri, sehingga perdagangan luar negerinya juga lancar sehingga transaksinya bisa langsung," kata pemilik toko yang menjual aneka jenis gerabah di kawasan wisata Kuta, Made Sukada, Minggu (17/11/2013).

Gerabah buatan Lombok masih menjadi incaran para kolektor barang seni luar negeri dan dulunya masuk pasar ekspor lewat Bali, namun sekarang mulai berkurang, karena pembeli langsung bertransaksi lewat daerah itu sehingga tidak lagi di Bali.

Barang seni asal Lombok cukup bagus karena diproduksi memanfaatkan rancang bangun (desain) yang semakin berkembang setelah mendapat pembinaan dari tim ahli dari Jerman dan Belanda, sehingga mampu mengikuti selera konsumen luar negeri.

Gerabah etnik ukuran besar yang dipajang di toko-toko seni di sepanjang jalur wisata Tohpati di Jalan Ida Bagus Mantra hingga ke Nusa Dua, hampir semuanya adalah produksi perajin dari daerah Banyumelek Lombok.

Sementara itu, gerabah produksi masyarakat Bali yang ukurannya lebih kecil dengan nilai seni tinggi juga banyak yang diboyong oleh masyarakat internasional, terutama warga Italia, Spanyol dan Jerman.

"Barang seni buatan masyarakat Bali bentuknya lebih kecil karena dihiasi ornamen seni budaya Bali, harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan gerabah buatan dari Lombok yang diproduksi secara polos," kata Made.

Kepala Biro Humas Pemprov Bali, Ketut Teneng membenarkan bahwa realisasi ekspor aneka barang gerabah yang dipasarkan ke luar negeri perolehan devisanya berkurang terakhir ini antara lain akibat resesi ekonomi global.


Warga desa Banyumulek, Lombok Barat, NTB, menyelesaikan kerajinan gerabah dari tanah liat, Jumat (8/7/2011). Mayoritas penduduk di desa tersebut bermata pencaharian sebagai perajin gerabah. Harga kerajinan gerabah bervariasi antara Rp 5.000 hingga Rp 500.000.
Sesuai data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, ekspor aneka barang terracotta baik dalam volume maupun perolehan devisanya berkurang selama 2013 hingga Juli hanya mencapai 1,2 juta dollar AS dari hasil pengapalan 674 ribu biji.

Hasil perdagangan itu melorot hingga 47 persen jika dibandingkan dengan periode sama 2012 yang mencapai nilai 2,3 juta dollar sedangkan volumenya juga berkurang 40,5 persen dari tahun lalu yang mencapai 1,1 juta biji dari berbagai jenis dan ukuran.

Ketut Teneng mengakui gerabah yang diperdagangkan ke pasaran ekspor selain produksi masyarakat Bali juga ada di antaranya gentong etnik hasil karya perajin Banyumelek, Lombok yang kerap juga diminati wisatawan asing.

Post a Comment Blogger

Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau titip link, akan dimasukan ke folder SPAM.
Untuk pertanyaan di luar topik artikel silahkan tag [OOT]
menyisipkan kode, gunakan tag <i rel="code">KODE ANDA DI SINI...</i> atau <i rel="pre">KODE ANDA DI SINI...</i>
menyisipkan gambar, gunakan tag <i rel="image">URL GAMBAR ANDA DI SINI...</i>
menyisipkan judul, gunakan tag <b rel="h3">JUDUL ANDA DI SINI...</b>
menyisipkan catatan, gunakan tag <b rel="quote">CATATAN ANDA DI SINI...</b>
menciptakan efek tebal gunakan tag <b>TEKS ANDA DI SINI...</b>
menciptakan efek huruf miring gunakan tag <i>TEKS ANDA DI SINI...</i>

Tools Konversi

 
Top